Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia - Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia ? Pernahkah kalian berfikir dan merasakan bagaimana asal muasal dari ejaan bahasa Indonesia? Yang tadinya “doeloe” menjadi “dulu”. Bahasa memang kerap sekali berubah seiring dengan berkembangannya zaman. Kalau dilihat dari perkembangan bahasa Indonesia dari dulu hingga sekarang, bahasa tidak terlepas dari perkembangan ejaan bahasa. Pada jaman dahulu memang bahasa Indonesia belum terbentuk dan disebut sebagai bahasa Indonesia tetapi masih dengan nama bahasa Melayu. Dan seiring waktu yang berjalan nama Indonesia mulai terbentuk hingga sampai sekarang yang tak akan lepas jika kita rasakan. Jika kita telah jauh ke dalam, telah ditemukan beberapa prasasti masa kerajaan Sriwijaya yang bertuliskan bahasa Melayu kuno dengan tulisan Pallawa. Hal ini membuktikan bahwa dahulu kala setiap satu orang dengan orang lain berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu kuno. Seiring dengan berjalannya waktu bhasa dan ejaan bahasa beserta tulisan mulai berkembang dan terus berkembang hingga sekarang yang berupa Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia.


Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia

Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia



Ejaan Bahasa Indonesia (yang disingkat EBI) merupakan bahasa Indonesia yang berlaku dari tahun 2015 yang sudah diatur serta berdasarkan PERMENDIKBUD Republik Indonesia No.50 tahun 2015 yuang berisi tentang Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia. Sebelum hal tersebut berlaku, bahasa Indonesia memiliki beberapa jenis ejaan. Berikut sedikit penjelasan dan teorinya.


Ejaan Melayu Kuno Abad ke 7


Seperti yang telah dijelaskan diatas, Dahulu kala ejaan Indonesia sudah digunakan semenjak kerajaan Sriwijaya berdiri. Hal ini telah dibuktikan dengan ditemukannya sebuah prasasti dengan bertuliskan bahasa Melayu kuno dan menggunakan huruf Pallawa.

Dahulu bahasa Melayu sangat cepat berkembang karena banyak pedagang baik dari asing maupun pedagang lokal yang sama-sama berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu kuno dalam bertransaksi atau melakukan jual beli. Akibat dari hal tersebut bahasa Melayu berkembang dan populer pada zamannya.


Huruf Arab-Melayu Abad ke 13


Pada abab ke 13 bahasa Melayu kemudian ditulis oleh salah seorang menggunakan  huru perpaduan Arab sehingga lahirlah huruf Arab-Melayu. Kemudian banyak karya sastra yang berupa huruf Arab-Melayu dan kemudian ejaan tersebut secara resmi digunakan untuk panduan ejaan dan penulisan sebelum digunakannya ejaan huruf latin. Tahun demi tahun berjalan, ejaan tersebut mulai berkembang dan berganti.



Ejaan Ophuijsen


Tahun 1901, Seorang ahli Belanda Charles Van Ophuijsen berhasil mengumpulkan dan merevisi ejaan dari abad ke 7 (Melayu Kuno) dan kemudian menamakan dengan nama Ejaan Van Ophuijsen yang sesuai dengan karangan bukunya yang berjudul kitab loegat Melayou. Hasil revisi tersebut diiterima oleh banyak kalangan dan akhirnya ejaan tersebut digunakan abad ke 19.


Ciri-Ciri Ejaan Ophuijsen


  1. Model hanya dimengerti oleh orang orang Belanda
  2. Menggunakan guruf latin
  3. Bunyi kata dan huruf ejaan tersebut mirip dengan logat Belanda
  4. Huruf ‘j’ mewakili huruf ‘y’ contohnya jang—yang,  sajang—sayang, 
  5. Huruf oe mewakili bunyi ‘u’ contohnya doeloe—itu, goeroe—guru, itoe—itu
  6. Masih terdapat pengaruh Arab, masih terdapat koma’ain dan tanda lainnya seperti kata ma’moer dsb.
  7. Huruf vokal di ejaan ini terdapat tanda titik dua diatasnya ä, ë, ï dan ö
  8. Menggunakan huruf tj (yang artinya C). Contoh kata :  tjinta—cinta, tjoekoer—cukur, dsb
  9. Menggunakan huruf dj (J). Contoh kata : moedjoer—mujur, djoedjoer—jujur, dsb.


Ejaan Soewandi


Tahun 1938 Masehi adanya pengadaan kongres Bahasa Indonesia yang diadakan di Solo untuk membahas mengenai perencanaan demi menyempurnakan ejaan sebelumnya yaitu ejaan Ophuijsen. Kongres tersebut berhasil diselesaikan dan membuahkan hasil berupa ejaan yang baru dan diberi nama Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik.


Baca Juga : Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli



Perubahan Ejaan Soewandi


  1. Pengihilangan tanda petik dan menggunakan huruf k untuk menggantikannya, contohnya ra’yat menjadi rakyat.
  2. Diperbolehkan menulis dengan angka 2 sebagai pengganti kata ulang.
  3. Penggunaan tanda trema dihilangkan.
  4. Penghilangan garis yang ada diatas huruf e yang sebelumnya digunakan untuk pembedaan .
  5. Penghilangan e pepet yang tadinya kata sastera berubah menjadi sastra.

Dari hal tersebut sudah terlihat perkembangan dari ejaan yang sebelumnya tampak rumit dan berubah menjadi sedikit ringkas.

Ada beberapa kata yang dirubah atau direvisi pada kongres yang diadakan di Kota Solo tersebut.

Van Ophuijsen 1901 Soewandi 1947

Boekoe
ma’lum
’adil
mulai
masalah
tida’
pende’ buku
maklum
adil
mulai
masalah
tidak
pendek


Ejaan Melindo


Tahun 1956 di Negara Singapura diadakan kembali adanya kongres dengan tujuan untuk Pembaharuan ejaan yang lebih praktis dan ringkas. Mereka (para hadirin kongres) mulai merevisi konsep mana yang masih bisa direvisi sebaik mungkin agar menjadi ejaan Indonesia yang praktis. Alhasil dari kongres tersebut disetujuinya konsep Ejaan Melindo.


Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)


Karena sebelumnya terjadi perselisihan dengan Negara Malaysia, Pada tahun 1972 diadakannya pertemuan besar antara Menteri Pendidikan Indonesia yang bernama MASHURI dan Menteri Pelajaran Malaysia TUN HUSSEIN.

Mereka berunding dan saling menukar pikiran dan mendapatkan hasil yang kedua belah pihak akhirnya sepakat bahwa :




Berdasar dengan Keppres No.57 Tahun 1972, berlakunya sistem ejaan Latin bagi bangsa Malaysia dan Indonesia.

Berdasarkan Keppres No. 57 Tahun 1972 lahirlah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ejaan tersebut merupakan revisi dari Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan lalu menerbitkan buku yang berjudul “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang telah Disempurnakan”

Berdasarkan KEPMENDIKBUD, tanggal 27 Agustus 1975 No.0196/U/1975 pemberlakuan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang telah Disempurnakan” dan “Pedoman Umum Pembentukan Istilah”.

EYD  ini dalam kurun waktunya mengalami perkembangan dan mengalami 2 kali revisi.

- Revisi yang pertama pada tahun 1987 dengan dikeluarkannya KEPMENDIKBUD NO.0543a/U/1987.

- Kemudian revisi yang kedua pada tahun 2009. Hal ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 46 Tahun 2009 yang berisi tentang buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang telah Disempurnakan.

Berikut adanya perbedaan mengenai EYD dengan Ejaan yang sebelumnya.

1) Huruf ‘C’ menggantikan huruf ‘tj’
2) Huruf ‘J’ menggantikan huruf ‘dj’
3) Huruf ‘kh’ menggantikan huruf ‘ch’
Achir—Akhir,
4) Huruf ‘y’ menggantikan huruf ‘J’
5) Huruf ‘ny’ menggantikan huruf ‘nj’
6) Huruf ‘sy’ menggantikan huruf ‘sj’
7) Huruf ‘j’ menggantikan huruf ‘dj’


Beberapa ketetapan baru yang terbentuk :

- Masuknya huruf F, V, dan Z dalam huruf resmi Bahasa Indonesia padahal sebelumnya huruf tersebut berasal dari negara asing.

- Awalan “di-“ untuk menyatakan tempat penulisannya dipisah dengan spasi.
Sedangkan awalan “di-“ untuk menyatakan kegiatan penulisannya disambung.

- Kata ulang ditulis penuh dan benar dengan mengulang kata tersebut atau unsur dari kata tersebut. Dalam penggunaan tanda perulangan seperti halnya angka 2 atau tanda petik dua sebagai tanda perulangan itu tidak diperbolehkan.

Hal-hal yang telah diatur dalam penulisan EYD yang baik dan benar :

- Penulisan huruf kapital serta huruf miring
- Dalam penulisan kata
- Penulisan tanda baca
- Penulisan singkatan
- Penulisan lambang bilangan dan angka
- Tentang penulisan unsur serapan


Penutup


Dengan ini dapat diketahui Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia mengalami banyak sekali perubahan baik dari segi cara membaca maupun cara menulis. Semoga artikel ini bermanfaat